Cari Blog Ini

Senin, 19 Maret 2012

ATHEISM IN THE RELIGIOUS DEMOCRACY

By: Lintang Wetan

Does the country still deserve to be called as a democracy? Who gave the authority to communities, even nations, to interfere with a person's religious life? Religion or not, believe or not believe in God, theist or atheist, is an individual affair. Why in this country it is a matter for mass?

The first principle of Pancasila as the foundation of our country, take the term Godhead. Not God, nor a personal God or a religious affiliation. Godhead is the virtue of a cosmic, universal and normative. Only people with narrow thinking may translate the term as a figure of Mr. God who throne in the sky.

As we know, Buddhism also has no concept of God, Buddhism is an atheistic religion. Actually, it is still recognized as the official religion in this country. This signs our founding father had universal paradigm in religious issues, much different from the elitist and religious leaders today.

When the corruptors and criminals continue to be free roaming and raising his stomach in this country, Alexander A'an captured and tyrannized, not for corruption or evil, but because only he is an atheist. This man dared to stand as his own, dared to honestly acknowledge his identity. Indeed he is - which today is considered waste – truly, the hero of the future of this country.

Minggu, 18 Maret 2012

TEORI HANTU

Oleh: Lintang Wetan


Ngomong-ngomong tentang hantu, jin, setan, makhluk halus, dan sebangsanya, saya teringat ada teori ilmiah tentang fenomena ini yang dirumuskan oleh Albert Einstein. Menurut Einstein, energi adalah kekal, ia tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan, hanya berpindah atau berubah dalam bentuk atau materi.


Lalu apa kaitannya dengan hantu?? Ketika manusia mati, fisik materi kasar hancur, tapi energinya atau gelombang elektriknya tetap ada, hanya berpindah atau kembali ke alam. Salah satunya gelombang elektrik ini berwujud sebagai cahaya. Konversi energi dari manusia ke bentuk cahaya inilah yang paling sering tertangkap oleh indera penglihatan manusia atau mungkin alat-alat optik tertentu.


Gelombang energi cahaya tersebut sebenarnya tidak jelas bentuk dan wujudnya. Namun di sini peran memori geokultural muncul. Sebuah fenomena cahaya sekilas dapat dipersepsikan sebagai bentuk manusia, wanita perempuan, pocongan, genderuwo, kolor ijo, suster ngesot, dsb. Tema-temanya bersifat lokal karena memang terimbas pengaruh persepsi geokultural lokal. Ini pun terjadi di wilayah lain dengan geokultural yang berbeda. Hampir tidak ada ceritanya di Eropa atau Amerika ada pocong bergentayangan, sebaliknya di tanah air juga tidak ada cerita penampakan drakula atau vampir hongkong.


Yang masih menyisakan tanda tanya adalah apakah gelombang energi tersebut masih utuh sebagaimana dulu saat berwujud manusia? Ataukah sebenarnya gelombang energi itu hanyalah hasil pecahan atau timbunan dan campuran dari energi-energi lain? Ini yang masih sulit dijelaskan. Boleh jadi juga bahwa sebenarnya energi positif manusia yang mati berubah menjadi roh (atman), sedangkan energi negatifnya melayang-layang dalam bentuk hantu.


Wallahualam.

Jumat, 16 Maret 2012

NYEKAR

Oleh : Lintang Wetan

Rumput dan ilalang di atas makam ini sudah lebat dan meninggi. Makam leluhur saya. Sudah hampir setahun saya tidak berkunjung ke sini. Dan kesempatan kali ini tidak akan saya lewatkan. Satu jam dalam kesendirian dan kesunyian di atas makam leluhur sungguh menggugah hati.

Saya bersihkan rumput dan ilalang dengan tangan telanjang. Segera teringat masa-masa beliau merawat dan menyayangi saya semasa... kecil. Dan belum sempat membalas segala kebaikan itu, Sang Maha Semesta telah memanggilnya pulang untuk selamanya. Tapi tidak ada kata terlambat. Berkunjung ke makam ini saya anggap sebagai penghormatan atas cinta yang tiada berakhir.

"Sembah pada leluhur. Terima kasih atas kasih dan pengorbanan yang sudah leluhur berikan pada saya. Hingga sekarang tak akan terlupakan. Tak jua mampu saya berjalan sendiri tanpa cinta leluhur. Bantulah saya menapaki hari-hari kedewasaan yang berat. Saya sedang susah, penuh masalah, sarat pergumulan. Bantulah saya wahai leluhur. Bantulah saya memohon pada Sang Maha Semesta untuk memberi kemudahan bagi jalan saya, keringanan bagi kaki ini mengayun langkah, kemampuan meraih cita dan menjadi manfaat bagi semesta."

Jumat, 20 Januari 2012

TUTUR TINULAR YANG TERNODA

Oleh: Lintang Wetan

TUTUR TINULAR adalah sebuah karya sastra yang bermuatan fakta-fakta sejarah milik bangsa ini. TUTUR TINULAR juga jembatan untuk mengisahkan kembali para pejuang Majapahit sebagai bagian dari cikal bakal terbentuknya negeri yang bernama INDONESIA.

Cerita kolosal karya Bpk S. Tidjab ini mulai disandiwarakan di radio dan menuai sukses, kemudian di-filmkan pada tahun 1989 diangkat pada TV serial pada tahun 1997 (Gentabuana). Kali ini di tahun 2011, kisah ini kembali diangkat dalam bentuk sinetron bertajuk Tutur Tinular versi 2011. Namun isi ceritanya sudah melenceng jauh dari cerita naskah asli sandiwara radio, film, maupun serial yang mendahuluinya.

Saya sebagai penggemar kisah Tutur Tinular sampai dibuat bingung-bingung dengan alur cerita yang awut-awutan.

Beberapa hal yang perlu dicermati adalah:

1. Munculnya tokoh asing yang mendominasi melebihi karakter utama, misalnya Respati, biakta, dan laksmi. Bahkan ada tokoh Krishna dan Khamsa dari epik Mahabharata dan Pangeran Bentar dari cerita Saur Sepuh serta Mak Lampir dan Gerandong dari cerita Misteri Gunung Merapi. Waelah dalah!!

















2. Busana yang dikenakan juga asal-asalan dan mengabaikan unsur kesejarahan. Busana dalam tutur Tinular yang seharusnya bersetting jaman Singosari - Majapahit, dicampur aduk dengan busana jaman Kesultanan Mataram, bahkan busana kerajaan jaman kolonial, dan gaya busana oriental serta eropa. Yang lucu adalah para tokoh pria mengenakan blangkon lalu ditutup dengan mahkota atau songkok. Sungguh pemandangan yang aneh.














3. Latar musik dalam sinetron tersebut lebih banyak bernuansa dangdut India dan instrumen latar yang kedengaran aneh dan volumenya terlalu besar, sampai-sampai dialog para tokoh sulit didengar.

4. Latar tempat dan suasana seringkali tidak sesuai. Misalnya setting hutan yang lebih mirip sebuah taman kota atau taman perumahan. Ada pula teman saya yang mengatakan pernah melihat bata berwarna pink, jalan yang sudah di-aspal, bahkan beberapa kali terlihat tower pemancar telepon selular.... hihi .... lucu banget!

Dari beberapa hal di atas tampaknya kita masih harus bersikap kritis pada kualitas tayangan sinetron di Indonesia hari-hari ini. Kita masih harus belajar banyak pada industri perfilman India, Hongkong, Taiwan, dan Korea, bahkan Hollywood dalam membuat film-film bersetting sejarah kuno yang jauh lebih kontekstual.

Kalau dibandingkan dengan sinetron Tutur Tinular tahun 1997, maka versi 2011 jelas kalah jauh dari banyak segi. Sinetron Tutur Tinular tahun 1997 lebih tampak kolosal, natural, kisahnya orisinil, dan performance pemainnya jauh lebih berkualitas. Hal ini yang membuat Sinetron Tutur Tinular versi 2011 sangat mengecewakan para pecinta sekuel Tutur Tinular, yang rata-rata melek sejarah. Umumnya mereka menuduh sinetron Tutur Tinular telah mengacak-acak dan mengaburkan sejarah Nusantara, sehingga berdampak negatif pada mindset generasi muda terhadap sejarah leluhurnya.






















Walau demikian hadirnya sinetron Tutur Tinular versi 2011 ini masih membawa angin segar dalam industri sinetron Indonesia yang hampir tidak pernah mengusung tema-tema sejarah Nusantara. Semoga saja sinetron ini jauh lebih baik di masa-masa penayangan selanjutnya. Salam dan sukses selalu _/\_

Kamis, 19 Januari 2012

TINJAUAN HISTORIS - MISTIS SERAT JANGKA JAYABAYA

Oleh : Lintang Wetan

Tinjauan Historis

Prabu Jayabaya adalah salah seorang raja Kediri (1130-1157Ms) yang termasyur dan konon ahli dalam menerawang masa depan. Sebagian besar masyarakat Jawa, sejak dulu hingga dewasa ini masih percaya bahwa Prabu Jayabaya telah menulis sebuah syair ramalan yang disebut Serat Jangka Jayabaya. Isinya adalah ramalan tentang jatuh-bangunnya "Negeri Jawa" atau Nusantara. Umumnya tafsir tentang Serat Jangka Jayabaya selalu menekankan pada akan datangnya sosok pemimpin hebat yang akan memulihkan zaman yang rusak (edan) menuju zaman yang penuh kemuliaan dan ketentraman sejati.

Kendati demikian, menurut Wibatsu Harianto Soembogo dalam bukunya “Kitab Primbon Quraisyn Adammakna: Serat Jangka Jayabaya” menyatakan bahwa sumber Serat Jangka Jayabaya sebenarnya merujuk pada Kitab Asrar (Musarar) karangan Sunan Giri Prapen (Sunan Giri III) yang dikumpulkan pada tahun Saka 1540 (1618Ms). Sedangkan Serat Jangka Jayabaya sendiri pertama kali ditulis oleh Pangeran Wijil I (Pangeran Kadilangu II) pada tahun Saka 1666-1668 (1741-1743Ms). Pujangga ini adalah keturunan Sunan Kalijaga, sehingga beliau dapat mengetahui sejarah leluhurnya dari dekat, termasuk riwayat masuknya Prabu Brawijaya V ke dalam agama Islam serta kisah pertemuan segitiga antara Sunan Kalijaga, Brawijaya V dan Sabdo Palon Nayagenggong.

Dengan demikian, keotentikan Serat Jangka Jayabaya sebagai karya sastra yang ditulis oleh Prabu Jayabaya sangat diragukan. Apalagi isi dari Serat Jangka Jayabaya sangat dipengaruhi oleh teologi Islam, padahal Jayabaya adalah Raja Kediri yang beragama Hindu dan memerintah sebelum masa Islam masuk Nusantara. Kuat dugaan Kitab Asrar warisan Sunan Giri Prapen dikonstruksi ulang oleh Pangeran Wijil I dan isinya dipadukan dengan Serat Bharatayudha yang ditulis Mpu Sedah pada masa Prabu Jayabaya. Mungkin tujuannya untuk dapat menjadi sumber penyemangat perjuangan bagi generasi anak cucu di kemudian hari. Pangeran Wijil I meminjam ketenaran Prabu Jayabaya untuk menambahkan otoritas dan wibawa pesan nasionalisme yang ingin disampaikan.

Tinjauan Mistis

Dari masa ke masa, banyak tafsir-tafsir dibuat atas syair-syair Serat Jangka Jayabaya. Apalagi dengan didukung oleh ramalan Serat Sabdajati karya pujangga besar Ronggowarsito dan Wangsit dari Prabu Siliwangi. Hebatnya simbol-simbol yang digunakan dalam syair-syair Serat Jangka Jayabaya sangat relevan dengan kenyataan zaman modern dewasa ini. Berikut beberapa petikan syair dan tafsir yang berkembang di masyarakat:

Syair:

“Mbesuk jen wis ana kreta mlaku tanpa turangga

Tanah Djawa kalungan wesi

Prahu mlaku ing a duwur awang-awang

Kali pada ilang kedunge, iku tanda yen jaman Jayabaya wis cedak.”

Terjemahan :

Besok jika ada kereta berjalan tanpa kuda ( tafsir = mobil, kereta api)

Tanah Jawa berkalung besi ( tafsir = rel Kereta api)

Perahu terbang di atas angkasa ( tafsir = pesawat terbang, roket)

Sungai pada hilang sumbernya (tafsir = sungai buatan)

Itulah pertanda jaman Jayabaya sudah dekat.

Syair:

”Akeh udan salah mangsa

Akeh perawan tua

Akeh randa meteng

Akeh bayi takon bapa

Agama akeh kang nantang, kamanungsan ilang“

Terjemahan :

Banyak hujan tidak tepat /sesuai musimnya

Banyak perawan tua

Banyak janda hamil (tafsir = tanpa suami)

Banyak bayi bertanya siapa bapaknya (tafsir = hamil di luar nikah)

Agama banyak ditentang, rasa kemanusiaan makin hilang

Syair:

”Wong wadon nganggo pakean lanang

Iku tandane yen bakal nemoni wolak-waliking jaman

Akeh manungsa ngutamakake real, lali kemanungsan“

Terjemahan:

Perempuan berpakaian laki-laki

Itu pertanda akan menemui jaman yang serba terbalik

Banyak manusia mengutamakan harta, lupa rasa kemanusiaan.

Syair:

”Wong apik-apik padha kapencil.

Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin.

Luwih utama ngapusi.”

Terjemahan:

Orang baik terkucilkan.

Banyak orang bekerja baik-baik /jujur yang malah malu

Lebih baik berdusta

Syair:

”Wong wadon ilang kawirangane.

Wong lanang ilang kaprawirane.

Akeh wong lanang ora duwe bojo.

Akeh wong wadon ora setya marang bojone.

Akeh ibu padha ngedol anake.

Akeh wong wadon ngedol awake.

Terjemahan:

Orang perempuan hilang malunya

Lelaki hilang keberaniannya/ jadi pengecut

Banyak laki-laki tidak beristri

Banyak wanita tidak setia/ berselingkuh

Banyak ibu menjual anaknya

Banyak wanita menjual diri

Syair:

“Sing ngalah rumangsa kabeh salah.

Ana Bupati saka wong sing asor imane.

Patihe kepala judhi.

Wong sing atine suci dibenci.

Wong sing jahat lan pinter jilat derajat.”

Terjemahan:

Yang mengalah merasa semua salah

Ada bupati (tafsir = pemerintah) yang rendah imannya (tafsir = moralnya)

Patihnya (tafsir = aparat) adalah kepala judi (tafsir = politik uang)

Orang berhati suci dibenci,

Orang jahat dan penjilat semakin dapat kedudukan

Beberapa syair dan tafsir di atas tampaknya cukup relevan terhadap fenomena kekinian. Satu per satu simbol dalam syair dapat dengan mudah ditancapkan pada kondisi carut marut bangsa hari-hari ini. Hal ini yang membuat masyarakat (khususnya Jawa) merasa kian yakin bahwa ramalan Serat Jangka Jayabaya benar-benar dimaksudkan untuk keadaan Nusantara pada jaman sekarang ini.

Lebih dari itu, umumnya tafsiran Jangka Jayabaya selalu ditekankan pada akan datangnya sosok pemimpin hebat (Ratu Adil) yang disebut sebagai “Herucakra” yang akan memulihkan zaman yang morat-marit ini menuju zaman yang penuh kemuliaan dan ketentraman sejati. Masyarakat selalu bertanya-tanya siapa sebenarnya sosok Herucakra ini? Dalam wilayah ini banyak terjadi perbedaan penafsiran yang intinya terbagi dalam dua kutub, yang pertama menafsirkan sosok Herucakra sebagai persona murni, sedangkan pihak kedua menafsirkan Herucakra sebagai gambaran (personifikasi) suatu kondisi karakteristik bangsa yang bermartabat.

Sebuah Perenungan

Jadi apa sebenarnya motif atau tujuan penulisan Serat Jangka Jayabaya ini? Apakah Serat Jangka Jayabaya murni merupakan kitab pewahyuan mistik para pujangga dan spiritualis pada era Jawa Baru? Ataukah tujuan penulisan kitab ini sebenarnya bermuatan politis untuk mengokohkan kekuasaan Kesultanan Mataram dengan cara mempribumisasikan nilai-nilai Islami ke dalam kearifan lokal. Suatu upaya politis para pujangga Jawa Baru untuk menyempurnakan cita-cita Islam yang Njowo (membumi) sebagaimana yang dirintis oleh Sunan Kalijaga dan Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir) yang nantinya menjadi cikal bakal Islam Abangan (Abahan). Dan yang tidak kalah pentingnya adalah strategi perang sastra untuk menangkal pengaruh kultural Kerajaan Bali yang masih satu akar dengan Majapahit. Dengan demikian masyarakat Blambangan (Banyuwangi) akan lebih condong berpaling pada Mataram daripada ke Bali.

Demikianlah Serat Jangka Jayabaya seakan menyimpan misteri tiada akhir, apakah ia merupakan representasi wahyu spiritual yang menerawang jauh ke masa depan ataukah hanya akal-akalan sastra untuk kepentingan politis Mataram. Entahlah mana yang benar atau mungkin bisa jadi juga kedua-duanya adalah benar. Yang jelas, masyarakat awam di Jawa hingga saat ini masih memegang teguh keyakinan pada Serat Jangka Jayabaya. Kalangan Kejawen umumnya masih meyakini bahwa suatu saat akan datang masanya Jawa (Nusantara) akan bangkit berjaya kembali, yaitu ketika Sang Ratu Adil alias Satriyo Piningit alias Herucakra alias Satriyo Pinandhito Sinisihan Wahyu datang memerintah negeri ini. Wallahualam!

Senin, 16 Januari 2012

JEJAK RASULULLAH

Oleh : Lintang Wetan

Betapa mulianya teladan Rasulullah, Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah tokoh pembaharu bagi peradaban Mekkah yang masih tertinggal di jamannya, khususnya bila dibandingkan dengan peradaban kuno di sekitarnya. Pada awal-awal abad Masehi, Mekkah bukanlah apa-apa, selain hanya hamparan pasir gersang nyaris tak bertuan. Sebagian kecil penduduk dari suku Quraish, Sulaim, Gathafan, Jusyam dan Badui, hidup dalam hukum "padang pasir" yang keras dan kejam, hampir-hampir tidak ada nilai-nilai kemanusiaan. Hingga suatu saat tampillah Rasulullah menjadi uswatun hasanah, penunjuk jalan bagi yang sesat, pemberi ilmu bagi yang bodoh.

Rasulullah ingin agar umat di Mekkah punya kelas etika dan peradaban seperti layaknya kaum Yahudi, kaum Nasarah, kaum Nabath di Petra, kaum Majusi dari Parsi, dan kehebatan kerajaan Byzantium serta kisah tutur tentang peradaban Yunani di masa lampau. Mekkah sungguh jauh tertinggal dari titik-titik peradaban tersebut. Tidak ada yang dapat dibanggakan dari Mekkah kala itu selain kemenyan, mur, kasia, kayu manis dan madat. Oleh karena itu Rasul ingin kaumnya bangkit. Keyakinan beliau telah berkobar di dalam dada sejelas ingatannya pada kisah patrotisme sang kakek, Abdul Muntalib yang pernah dengan gagah berani mengalahkan kavaleri gajah Gubernur Abrahah dari Yaman. Kisah itu cukup untuk membuktikan bahwa rakyat Mekkah pasti bisa bangkit menjadi bangsa yang besar dan dihormati oleh dunia.

Untuk itu, orang-orang Mekkah harus diajari akhlak dan etika. Maka Rasulullah pun menyusun aturan-aturan etika dengan detail. Rasul dengan sabar mengajar hal-hal sepele, tata cara ini dan itu. Betapa sulitnya mengajari akhlak pada umat yang keras kepala dan biadab, yang hanya tahu membunuh, makan, buang air dan melakukan hubungan seksual. Tidak mudah membimbing umat yang jahiliyah yang dibesarkan dalam hukum "padang pasir". Tentu Rasul harus berkreasi dan berakal dengan sedikit menyisipkan dongeng-dongeng yang mendidik yang diadopsi beliau dari peradaban Yahudi dan Nasarah. Hal itu dimaksudkan untuk memudahkan umat memahami makna kebenaran dan moralitas. Sungguh seperti halnya seorang Bapak mengajari anak-anaknya dengan penuh kesabaran. Rasululah adalah sosok pemimpin umat yang zuhud dan bijaksana.

Umat di Mekkah diajari mengenal Allah, Tuhan Yang Maha Esa, umat diajari sholat dan puasa agar selalu ingat pada Allah dan dapat menahan nafsu. Jumlah istri yang dulunya tak terbatas, kemudian dibatasi dan harus memberi rasa keadilan bagi kaum perempuan. Harkat perempuan ditinggikan dengan busana burqa agar tidak diperkosa di jalan-jalan oleh para laki-laki. Berbagai dogma disusun demi keteraturan dan kesejahteraan umat. Umat bahkan diajari cara hidup yang bersih melalui wudlu, sunat, ber-siwak (membersihkan gigi), larangan buang air kecil di sembarang tempat, sampai mau tidurpun umat diajari untuk dalam keadaan bersih. Subhanallaah!!

Maka apa yang ditinggalkan oleh Rasulullah pun berhasil membawa rakyat Mekkah menjadi bangsa yang besar dan kuat. Dalam periode selanjutnya ajaran-ajaran Rasul ini menjadi agama tandingan bagi Yahudi dan Nasarah, yaitu agama Islam. Peradaban Islam pada masa khalifah sesudah masa Rasul berkembang begitu pesat dan menjadi kekuatan politik, militer dan ekonomi yang mendunia pada rentang abad 8 – 16Ms.

Itulah jejak Rasulullah, Nabi Muhamamd SAW. Jejak teladan yang ditorehkan pada masanya. Tepat dan kontekstual pada jamannya. Rasul adalah pembaharu bagi sebuah peradaban yang mandeg. Ironisnya ketika roda waktu berputar, jaman terus berganti, dan Islam telah terdampar di jaman modern hari ini, mengapa jejak pembaharuan Rasul justru terhenti. Dogma-dogma yang dulu dicetuskan oleh Rasul yang sudah tidak kontekstual masih terus ditancapkan dalam kehidupan umat Islam. Mengapa para ulama salah menangkap hakikat teladan Rasul yang sesungguhnya, yaitu teladan pembaharuan? Bukankah seharusnya Islam harus terus memperbaharui diri seiring jaman yang terus berubah dan berupaya menjadi yang terdepan dalam kekinian jaman? Mengapa ajaran yang lahir dari sebuah pembaharuan, kini berubah menjadi ajaran yang mandeg dan dogmatis? Siapakah yang salah?

Andaikan saja Rasulullah kembali dari akhirat dan turun ke bumi, lalu melihat kenyataan Islam hari ini, barangkali beliau akan terheran-heran. Mungkin saja beliau akan berkata: Hey, mengapa kalian para ulama masih menggunakan cara lama itu? Itu kan cocok untuk jaman saya, itu kan cocok untuk daerah saya di Mekkah dengan budaya padang pasirnya. Kalian kan hidup di jaman dan budaya kalian sendiri. Mengapa kalian tidak kreatif? Ingat jejak yang telah saya torehkan …. PEMBAHARUAN!!

Kamis, 08 Desember 2011

YESUS HISTORIS ATAUKAH YESUS IDEA?

Oleh: Lintang Wetan

Dalam Injil Yohanes 1:1 dikatakan: "en arkhê ên ho logos kai ho logos ên pros ton theon kai theos ên ho logos". Artinya: “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”.

Yohanes menyebut istilah “Logos”. Apakah logos itu? Logos adalah bahasa Yunani yang merujuk pada Idea atau Nilai. Filsuf Yunani seperti Socrates, Plato, dan Philo mendeskripsikan logos bukan dalam artian personifkasi tertentu, tetapi sebagai The Perfect Idea. Gampangnya "logos" merujuk pada segala sesuatu yang bernilai positif dan mulia. The Perfect Idea itu nyata, bukan angan-angan, bukan ide/gagasan dalam pikiran manusia. Idea adalah nilai ilahi, semacam Devine Cosciousness atau kesadaran ilahi yang kekal, mutlak, dan tetap adanya. Idea juga bermakna nilai yang universal. Setiap manusia memiliki "Idea" jauh dalam hati nuraninya yang terdalam (Richard D. McKirahan, Philosophy before Socrates, Hackett, 1994).

Sedangkan dalam tradisi ortodoks (The Jewish Encyclopedia, New York and London, 1904, p. 465 dan The Catholic Encyclopedia copyright 1907-1914, Robert Appleton Company), logos dipahami dalam istilah (Aramik) “Memra”, yang mengandung arti sama dengan istilah ”Logos” dalam bahasa Yunani, yaitu: Firman. Tetapi pemahaman ortodoks lebih menekankan bahwa “Memra” mengandung konsep “Inisiatif Idea” atau konsep tentang Allah yang mewujud. Allah yang dapat ditemui “face to face”.

Hal ini tampak dalam pembabaran injil Yohanes 1:14 “kai ho logos sarx egeneto kai eskênôsen en hêmin kai etheasametha tên doxan autou doxan hôs monogenous para patros plêrês kharitos kai alêtheias”. Artinya: “Firman itu telah menjadi daging (manusia), dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran”.

Di sinilah titik poin yang seringkali menimbulkan masalah, yaitu apakah Firman itu adalah Logos dalam filsafat Philo sebagai Idea yang tak terpersonifikasi, ataukah Firman itu adalah Memra dalam tradisi ortodoks yang dimaknai sebagai Allah yang mewujud? Lebih jauh lagi, apakah Memra sebenarnya benar-benar mengacu pada diri Yesus?

Bila ditelusuri dalam khasanah tradisi Yahudi yang tertulis dalam Tannakh, maka akan ditemukan konsep teologi “Allah yang face to face” dari masa ke masa. Misalnya dalam Kitab Kejadian 32:30 yang mengisahkan Yakub bertemu Allah “face to face” di Pniel. Keluaran 3:2 yang mengisahkan Musa melihat Allah dalam wujud semak belukar yang menyala. Juga dalam Kitab Hakim-Hakim 6:22-23 yang mengisahkan Gideon menyaksikan Allah “face to face” dalam wujud malaikat. Dengan demikian konsep personifikasi Allah sudah lama ada dalam tradisi teologi Yahudi dan tradisi tersebut pulalah yang mendasari teologi kristen dalam mengimani Yesus sebagai “Memra”, Allah yang mewujud menjadi manusia.

Terlepas dari perbedaan pemahaman antara LOGOS PHILO dengan LOGOS MEMRA, maka sesungguhnya sama sekali tidak menggeser pesan bahwasannya penekanan sosok keilahian Yesus, bukanlah pada sosok artifisialnya atau sosok kemanusiannya, melainkan pada Idea yang ada di dalam Yesus. Ketika Yohanes menyatakan bahwa "Firman (Logos) itu telah menjadi daging", maka sesungguhnya penekanan Yohanes bukanlah pada entitas “daging” melainkan pada “logos”. Jadi Injil Yohanes sebenarnya ingin menyampaikan bahwa sosok fisik Yesus atau (Yesus historis) hanyalah "media bantuan" bagi manusia untuk dapat memahami "logos" (Yesus Idea). Dari sini setidaknya dapat dipahami dua konsep dalam memaknai keilahian Yesus, yaitu Yesus Historis dan Yesus Idea. Yesus Historis hanyalah sosok manusia yang secara fisik terbatas ruang dan waktu, hanya media bantuan sementara. Sedangkan Yesus Idea adalah logos sejati (Logos Spermatikos) atau ”The Perfect Idea”, yang abadi, mutlak, universal, dan tetap adanya. The Perfect Idea itu tidak lain adalah KASIH (Agape).

Tidak mudah untuk memahami apologetik semacam ini. Kesulitan tersebut justru muncul akibat sakralisasi sosok artifisial Yesus historis yang telah mengurat akar dalam paradigma gereja dan umat kristen. Tidak heran bila banyak umat kristen memuji dan menyembah sosok Yesus Historis tetapi sama sekali tidak memiliki Idea Yesus (Kasih). Banyak orang kristen menyanyikan pujian: “Oh, Yesus Kaulah segalanya bagiku!”, tapi mereka sama sekali tidak sadar bahwa pujian "Yesus Segalanya" itu sedang mengacu pada sosok Yesus Idea, bukan Yesus Historis. Secara ekstrim, adalah lebih baik seseorang tidak menyembah sosok Yesus,tetapi memiliki nilai-nilai The Perfect Idea (Kasih), sebab mereka sesungguhnyalah inilah Penyembah yang Benar yang dimaksud oleh Yesus.

Yesus historis yang hidup di Palestina 2000 tahun lalu adalah sosok mistikus yang berhasil mencapai kesempurnaan logos. Sebagaimana juga sosok Gautama yang berhasil mencapai Buddha. Sosok Khrisna yang mencapai Avatar. Tetapi sosok Yesus historis, Gautama, maupun Khrisna tetap tidaklah kekal dan terbatas sebagai "persona". Sedangkan logos atau The Perfect Idea-lah yang abadi, yang selalu ada dalam batin setiap individu, namun seringkali tidak disadari karena gambar Allah yang rusak dalam diri manusia. Dengan demikian tujuan spiritualitas sejati adalah mencapai kesempurnaan logos dengan cara membangkitkan The Perfect Idea (Yesus Idea) dalam diri setiap individu, sebagaimana yang telah diteladankan oleh Yesus (Historis). Dengan inilah manusia akan kembali pada kodrat ilahinya sebagai gambar Allah yang sempurna. Inilah sesungguhnya rahasia yang sama dalam konsep Manunggaling Kawula Gusthi, Sufisme, Vedanta Advaita dan Taoisme.